PROPOLIS DIAMOND

Adalah tidak berlebihan
jika ada yang mengatakan,
jika Anda membawa satu botol kecil
Propolis Diamond sama saja Anda ...

membawa OBAT SATU APOTIK !



Rabu, 01 Mei 2013

Mengawinkan Obat Kimia dangan Herbal, bolehkah ?

Boleh saja mengkonsumsi obat-obatan kimia sekaligus ramuan herba. Tapi hati-hati jangan sampai salah pilih.

SAAT bangun pagi, Anda merasa pusing sehingga langsung menelan dua butir aspirin. Karena masih merasa kurang fit, Anda menggelontor jamu tolak angin yang mengandung jahe. Setelah itu, Anda minum suplemen ginseng untuk membangkitkan vitalitas, dan gingko untuk meningkatkan daya konsentrasi. Setelah sarapan, Anda minum obat yang diberikan dokter untuk menurunkan kolesterol dan mengendalikan gula darah. Di kantor, seperti biasa, Anda minum kopi. "Nah lu..." bukannya menjadi lebih segar, tiba-tiba Anda merasa benar-benar tidak nyaman.


Tidak semua berhasil

Pemakaian obat-obatan yang terbuat dari bahan alamiah kembali menjadi tren. Padahal beberapa tahun yang lalu kebanyakan orang masih sangat tergantung pada obat-obatan kimia. Dengan harapan lebih cepat sembuh, kini minum obat kimia (obat dokter) sekaligus herba atau jamu bukan lagi sesuatu yang aneh. Minum obat-obatan dari dokter sekaligus jamu bersalin, misalnya, lazim dilakukan para ibu di tanah air. Tapi apakah mengkonsumsi kedua jenis obat-obatan tersebut secara bersamaan benar-benar aman?



Jangan kecewa bila Anda akan mendapatkan jawaban 'tidak' bila menanyakan pada dokteryang merawat Anda. Jawaban itu masuk akal karena, seperti yang dikatakan dr. Setiawan Dalimartha, dokter dan penulis buku-buku tanaman obat, penelitian mengenai interaksi obat-obat kimia dan herba masih sangat terbatas. Bahkan kebanyakan ahli di negara-negara maju pun hanya dapat menjawab berdasarkan teori.

Ada berbagai kisah di sekitar kita mengenai pemakaian obat Yang 'campur aduk' tersebut. Salah satu kejadian yang menyedihkan terjadi pada Bapak Anwar (bukan nama sebenarnya). Bapak yang berusia 65 tahun ini sudah beberapa tahun menderita hipertensi dan gout (kadar asam urat tinggi). Selain minum obat penurun tekanan darah dan asam urat dari dokter, ia juga minum ramuan tanaman obat yang ia sendiri tidak mengetahui jenisnya tapi terkenal berkhasiat menyembuhkan segala penyakit. Mula-mula ia merasa lebih baik, tapi beberapa bulan kemudian muncul berbagai gangguan lain, mulai dari gagal ginjal hingga gangguan fungsi jantung. Akhirnya ia tidak bisa diselamatkan.

Kisah yang dialami Bapak Anwar memang hanya sekelumit contoh yang terjadi di sekeliling kita. Karena ternyata banyak juga orang yang mendapatkan manfaat lebih setelah minum ramuan atau obat-obatan herba bersama dengan obat-obatan kimia resep dokter. Misalnya Oyong (53 tahun) yang bebas dari hepatitis E karena memadukan obat-obatan dari dokter dan berbagai ramuan dari Ny. Patopoi Passau (lihat Nirmala 06/ 2001), yang bebas dari efek samping kemoterapi setelah mengkonsumsi jus keladi tikus.


Pentingnya dosis

"Sebenarnya kedua preparat tersebut bekerja dengan cara yang berbeda, " demikian menurut Dr. Amarullah H. Siregar, DIHom, DNMed, dokter ahli naturopati. "Kalau obat-obatan kimia atau sintetis bekerja langsung dengan menekan gejala sakit, maka obat-obatan alamiah berfungsi menyeimbangkan kondisi tubuh sehingga berfungsi baik."
Mengapa penggabungan obat-obatan kimia dengan herba tidak memberikan hasil yang baik, menurut Dr. Amarullah, kemungkinan karena dosisnya yang tidak sesuai. "Kalau dosis obat herba yang diberikan terlalu rendah, maka manfaatnya sangat terbatas, sebaliknya bila terlalu tinggi, mungkin bisa menimbulkan efek yang berlebihan,"papar Dr. Amarullah lebih lanjut. Jenis campuran obat juga merupakan hal yang penting, karena itu ia juga mengingatkan agar konsumen jangan asal menggunakan 'suplemen' karena sebenarnya suplemen tersebut tergolong obat yang pemakaiannya harus hati-hati dan di bawah pengawasan yang ahli.

Senada dengan Dr. Amarullah, dr. Setiawan juga menekankan pada pentingnya dosis dan campuran obat-obat, baik herba maupun kimia, yang dikonsumsi. "campuran herba yang tidak cocok bisa saja terjadi, apalagi obat herba dengan kimia. " Karena itu, pasien perlu memiliki pengetahuan efek tiap obat. "Kalau secara rutin mengkonsumsi ramuan tertentu, komunikasikan dengan dokter mengenai efek ramuan tersebut," jelas dr. Setiawan. Hal ini perlu karena saat ini masih belum banyak dokter yang mengenal khasiat tanaman obat. Dengan informasi tersebut, dokter dapat menentukan obat apa yang bisa dipakai dan berapa dosis yang diperlukan.

Waktu pengkonsumsian obat juga dipandang dr. Setiawan sebagai hal yang perlu diperhatikan. "Mengkonsumsi obat atau ramuan dari tanaman obat hendaknya dilakukan satu hingga dua jam sebelum atau sesudah mengkonsumsi obat-obatan kimia. Dengan demikian, efek yang tidak diharapkan dapat dicegah. Tapi manfaatnya tetap dapat dirasakan," paparnya lebih lanjut.


Hubungan yang sinergi


Di tanah air, ada beberapa jenis tanaman yang dikenal mempunyai interaksi yang baik dengan obat-obatan kimia. Misalnya temulawak dan obat gangguan fungsi hati. Sayangnya penelitian mengenai hal itu masih belum tuntas.
Walau begitu, ada beberapa penelitian klinis yang menunjukkan bahwa herba tertentu dapat bekerja secara sinergi dengan antibiotik. Penelitian di Jerman menunjukkan bahwa dalam kombinasi yang sesuai, echinacea, white cedar (Thuja occidentalis), dan akar wild indigo ( Baptisia tinctoria) dapat digunakan bersama dengan terapi antibiotik untuk mengatasi bakteri amandel. Penelitian yang dilakukan terhadap 4000 pasien menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan antibiotik dan ramuan herba sembuh lebih cepat dan lebih banyak yang tidak kambuh lagi.

Hasil penelitian yang dilakukan para dokter THT di Jerman terhadap 60 pasien sinusitis akut menunjukkan hal yang serupa. Kelompok yang diberi antibiotik sekaligus herba mengalami proses penyembuhan lebih cepat dari pada yang hanya mendapatkan antibiotik.

Walau tampak menjanjikan, bukan berarti herba dapat dijadikan sebagai pengganti antibiotik, demikian menurut Robert Rountree, M.D., dokter dan penulis, yang menulis di majalah Herbs for Health edisi Juli 2001. Fungsi herba di sini adalah pertolongan pertama. Berdasarkan hasil penelitian, untuk mengobati infeksi saluran pernafasan atas yang masih tahap awal, herba seperti echinacea dan sambiloto (Andrographis paniculata) terbukti lebih baik daripada obat-obat kimia. Hal ini karena herba tersebut mempunyai efek anti radang dan anti virus. Tambahan antibiotik, tentunya dengan resep dokter, dapat dilakukan apabila sakit bertambah parah.


Pilihan di tangan Anda

Lepas dari pro dan kontra mengenai pemakaian obat kimia dan herba, harus kita akui bahwa obat-obatan dari herba memang alamiah. Berbagai penelitian klinis menunjukkan bahwa herba mempunyai berbagai khasiat yang mirip dengan obat kimia tapi dengan efek samping yang lebih kecil. Karena itu, penambahan herba saat menjalani terapi dengan obat-obatan kimia tampak memberikan harapan lebih besar. Walau begitu, bukan berarti kita boleh lengah dan ikut-ikutan mengkonsumsi herba berikut obat-obatan tanpa mengetahui efeknya.


Tip memadukan Obat

1. Kenali manfaat dari kedua jenis obat-obatan tersebut. Jangan ragu untuk bertanya pada dokter, ahli tanaman obat, atau sinse (bila menggunakan ramuan Cina). Dengan demikian Anda terhindar dari kesalahan memadukan.

2. Obat kimia dan herba sebaiknya tidak dikonsumsi secara bersamaan. Apalagi jika herba tersebut mengandung serat yang tinggi. Berikan jarak waktu sekitar satu jam. Lebih baik lagi jika Anda menanyakan pada dokter berapa lama obat kimia selesai diserap saluran pencernaan.

3. Bila Anda merasa lebih baik atau berdasarkan hasil pemeriksaan menunjukkan perbaikan, konsultasikan pada dokter untuk mengurangi dosis obat.


PANDUAN OBAT KIMIA YANG TIDAK SERASI

PENGETAHUAN tentang padu padan obat kimia dengan herba sebagian besar masih berupa teori. Walau demikian, tak ada salahnya jika Anda mengenal lebih jauh tentang jenis obat yang Anda dapatkan dari dokter maupun herba atau suplemen yang Anda konsumsi.


Obat Jantung

Ada beberapa jenis herba yang dapat mempengaruhi kerja obat jantung. di antaranya jenis pencahar seperti Cascara sagrada dan sena (trengguli). Selain itu juga licorice, jenis herba yang biasa terdapat pada permen buatan Cina, obat batuk, dan obat untuk gangguan pencernaan. Walaupun alami, herba tersebut bersifat menurunkan kadar kalium tubuh. Ketika kadar kalium dikombinasikan dengan zat digoxin seperti yang biasa terdapat pada obat penurun tekanan darah, maka akan menimbulkan gangguan ritme jantung bahkan dapat
menghentikan kerja jantung. Hal ini terjadi karena digoxin bersifat diuretik
(mengeluarkan cairan tubuh), yang juga berarti menurunkan kadar kalium. Turunnya kadar kalium secara drastis pada tubuh bisa merusak otot jantung.

Herba lain yang perlu dihindari saat mengkonsumsi obat jantung adalah herba yang berfungsi meningkatkan stamina seperti ginseng dan ma huang (Ephedra sinica) karena akan meningkatkan tekanan darah dan mengganggu irama jantung.


Obat Pengencer Darah


Obat-obat pengencer darah, seperti aspirin dan warfarin, merupakan jenis obat yang biasa diresepkan dokter untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah. Obat-obatan jenis ini dapat menimbulkan bahaya. New England Journal of Medicine tahun 2000 melaporkan tentang seorang pria yang mengalami rabun karena mengkonsumsi aspirin dan gingko. Paduan obat kimia dan herba yang sama berfungsi mengencerkan darah tersebut ternyata menyebabkan perdarahan di matanya sehingga mengganggu penglihatan secara permanen.

Ada beberapa obat herba lain yang sebaiknya tidak dikonsumsi bersama dengan obat jenis ini, yaitu bawang putih, bromalin (enzim yang terdapat pada nanas), dan ginseng. Bawang putih dan bromalin dapat menimbulkan efek serupa dengan gingko. Sedangkan ginseng, bahayanya lebih tinggi lagi karena dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan stoke.


Obat Penurun Gula Darah

Ada beberapa herba yang mempunyai efek seperti insulin, obat yang dapat menurunkan level gula darah pada tubuh. Karena itu, sebaiknya berhati-hati mengkonsumsi ramuan atau suplemen yang berfungsi menurunkan berat badan seperti glukomanan, jenis herba yang juga sering digunakan sebagai pencahar.

   
Semoga Bermanfaat.

Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda !


Sumber : Majalah Nirmala Maret 2002

Rachmadi Triatmojo
Pengelola terapi-alami.com

http://www.terapi-alami.com
gaya hidup sehat alami masyarakat masadepan (baca : islami)


NB : Jika anda suka posting artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK Anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini ! Terimakasih.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Terapi Alami Herbal Pilihan
Kopi Racik Bumbu Arab (KRBA)
Rp 150.000,-
 Rp 135.000 ,- (2-5 botol)
Rp 120.000 ,- (6-10 botol)
Rp 112.500 ,- (11 botol ke atas)

   
Kapsul
 Sarang Semut Kapsul Sarang Semut

 P. Jawa Rp 75.000,-
Luar P. Jawa Rp 80.000 ,-


   
Gamat HIU
(Herbal Indo Utama)

 P. Jawa Rp 75.000,-
Luar P. Jawa Rp 80.000 ,-


   

Orimarru


Rp 150.000,-


   
Madu Hitam Pahit
Ar Rohmah
Madu Hitam Pahit Ar Rohmah
 Rp 85.000,-
 Rp 76.500 ,- (2-5 botol)
Rp 68.000 ,- (6-10 botol)
Rp 63.750 ,- (11 botol dst)

   
Madu Hitam Pahit Insuline
Darusyifa
Madu Hitam Pahit Insuline Darusyifa

 Rp 75.000,-
 Rp 67.500 ,- (2-5 botol)
Rp 60.000 ,- (6 botol dst)

   
Kopi Racik Bumbu Arab (KRBA)
Rp 150.000,-
 Rp 135.000 ,- (2-5 botol)
Rp 120.000 ,- (6-10 botol)
Rp 112.500 ,- (11 botol ke atas)

   
Kapsul
 Sarang Semut Kapsul Sarang Semut

 P. Jawa Rp 75.000,-
Luar P. Jawa Rp 80.000 ,-


   
Gamat HIU
(Herbal Indo Utama)

 P. Jawa Rp 75.000,-
Luar P. Jawa Rp 80.000 ,-


   

Orimarru


Rp 150.000,-


   
Madu Hitam Pahit
Ar Rohmah
Madu Hitam Pahit Ar Rohmah
 Rp 85.000,-
 Rp 76.500 ,- (2-5 botol)
Rp 68.000 ,- (6-10 botol)
Rp 63.750 ,- (11 botol dst)

   
Madu Hitam Pahit Insuline
Darusyifa
Madu Hitam Pahit Insuline Darusyifa

 Rp 75.000,-
 Rp 67.500 ,- (2-5 botol)
Rp 60.000 ,- (6 botol dst)

   
Kopi Racik Bumbu Arab (KRBA)
Rp 150.000,-
 Rp 135.000 ,- (2-5 botol)
Rp 120.000 ,- (6-10 botol)
Rp 112.500 ,- (11 botol ke atas)

   
Kapsul
 Sarang Semut Kapsul Sarang Semut

 P. Jawa Rp 75.000,-
Luar P. Jawa Rp 80.000 ,-


   
Gamat HIU
(Herbal Indo Utama)

 P. Jawa Rp 75.000,-
Luar P. Jawa Rp 80.000 ,-


   

Orimarru


Rp 150.000,-


   
Madu Hitam Pahit
Ar Rohmah
Madu Hitam Pahit Ar Rohmah
 Rp 85.000,-
 Rp 76.500 ,- (2-5 botol)
Rp 68.000 ,- (6-10 botol)
Rp 63.750 ,- (11 botol dst)

   
Madu Hitam Pahit Insuline
Darusyifa
Madu Hitam Pahit Insuline Darusyifa

 Rp 75.000,-
 Rp 67.500 ,- (2-5 botol)
Rp 60.000 ,- (6 botol dst)

   
Kopi Racik Bumbu Arab (KRBA)
Rp 150.000,-
 Rp 135.000 ,- (2-5 botol)
Rp 120.000 ,- (6-10 botol)
Rp 112.500 ,- (11 botol ke atas)

   
Kapsul
 Sarang Semut Kapsul Sarang Semut

 P. Jawa Rp 75.000,-
Luar P. Jawa Rp 80.000 ,-


   
Gamat HIU
(Herbal Indo Utama)

 P. Jawa Rp 75.000,-
Luar P. Jawa Rp 80.000 ,-


   

Orimarru


Rp 150.000,-


   
Madu Hitam Pahit
Ar Rohmah
Madu Hitam Pahit Ar Rohmah
 Rp 85.000,-
 Rp 76.500 ,- (2-5 botol)
Rp 68.000 ,- (6-10 botol)
Rp 63.750 ,- (11 botol dst)

   
Madu Hitam Pahit Insuline
Darusyifa
Madu Hitam Pahit Insuline Darusyifa

 Rp 75.000,-
 Rp 67.500 ,- (2-5 botol)
Rp 60.000 ,- (6 botol dst)

   
PANDUAN DENAH
PANDUAN DENAH